Ketika Bangsa Lebih Memilih Ikan daripada Kail
TEKNIK/SASTRA — sebuah catatan dari Jembatan Teksas
Ketika Bangsa Lebih Memilih Ikan daripada Kail
Catatan dari Kantin FEUI tentang Anggaran, Pesawat, Science, dan Masa Depan Indonesia.
Pagi itu saya duduk di kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di Depok.
Tidak ada peristiwa besar. Tidak ada seminar. Tidak ada pidato politik. Saya hanya makan, minum kopi, dan seperti biasa, membiarkan pikiran berjalan ke mana-mana.
Pandangan saya kemudian tertuju ke arah Jembatan Teksas.
Jembatan yang menghubungkan dua dunia di Universitas Indonesia: Teknik dan Sastra.
Entah mengapa, pada pagi itu saya seperti mengalami déjà vu.
Saya melihat jembatan itu dan tiba-tiba muncul sebuah asosiasi sederhana dalam kepala.
Teknik adalah teknologi.
Sastra adalah filsafat dan rasa.
Dan mungkin sebuah bangsa memang membutuhkan keduanya.
Teknologi tanpa filsafat dapat kehilangan arah. Kita mungkin mampu membangun mesin, tetapi tidak tahu untuk apa mesin itu dibangun. Kita mungkin mampu menciptakan kecerdasan buatan, senjata, gedung, pesawat, atau bahkan kota-kota baru, tetapi tetap gagal menjawab pertanyaan yang paling mendasar:
Manusia seperti apa yang ingin kita bentuk? Bangsa seperti apa yang ingin kita bangun?
Sebaliknya, filsafat tanpa teknologi juga memiliki keterbatasannya sendiri.
Kita bisa memiliki ribuan gagasan tentang keadilan, kemajuan, kemanusiaan, dan masa depan. Kita bisa menulis puisi tentang bangsa yang besar. Kita bisa berdiskusi sampai pagi di angkringan tentang Indonesia yang berdaulat.
Tetapi tanpa kemampuan untuk membuat sesuatu, semua itu mungkin hanya akan menjadi percakapan yang indah.
Cita-cita tanpa kemampuan hanya akan menjadi puisi.
Dan teknologi tanpa cita-cita mungkin hanya akan menjadi mesin tanpa jiwa.
Mungkin itu sebabnya pagi itu Jembatan Teksas terasa seperti lebih dari sekadar jembatan.
Setidaknya bagi saya.
Ia seperti metafora tentang apa yang sebenarnya sedang kita butuhkan sebagai bangsa: sebuah jembatan antara kemampuan dan kebijaksanaan.
Antara science dan rasa. Antara teknologi dan filsafat. Antara apa yang bisa kita lakukan dan apa yang seharusnya kita lakukan.
FEUI, sebuah memori tentang pembangunan
Mungkin karena saya duduk di FEUI, pikiran saya kemudian melompat kepada sejarah.
FEUI memiliki tempat tersendiri dalam sejarah ekonomi-politik Indonesia.
Kampus ini, bersama tradisi pemikiran ekonomi dan teknokrasi Indonesia, sering dikaitkan dengan sebuah periode ketika pembangunan nasional menjadi proyek yang sangat serius. Tentu sejarah Indonesia tidak pernah sesederhana itu. Tidak ada satu periode pun yang hanya memiliki warna putih.
Dan saya tidak sedang ingin menulis nostalgia politik.
Saya juga tidak ingin menyederhanakan masa kepemimpinan Soeharto menjadi kisah sukses pembangunan.
Terlalu banyak persoalan politik, kekerasan, represi, korupsi, dan luka sejarah yang tidak boleh dihapus hanya karena kita ingin membicarakan pertumbuhan ekonomi.
Tetapi menjadi kritis terhadap masa lalu juga tidak berarti kita harus kehilangan kemampuan untuk belajar darinya.
Sejarah bukan propaganda. Sejarah adalah laboratorium.
Dan dari laboratorium itu, kita seharusnya berani bertanya: Apa yang berhasil? Apa yang gagal? Apa yang tidak boleh diulang? Dan: Apa yang mungkin masih layak kita pelajari?
Indonesia pada pertengahan 1960-an menghadapi situasi ekonomi yang sangat berat.
Inflasi mencapai tingkat yang ekstrem. Ekonomi mengalami disorganisasi. Persoalan pangan menjadi sangat serius. Negara tidak hanya miskin secara finansial, tetapi juga miskin dalam kapasitas institusional.
Indonesia adalah bangsa besar yang sedang berusaha keluar dari kekacauan.
Lalu sesuatu terjadi.
Negara mulai membangun disiplin. Disiplin fiskal. Disiplin pembangunan. Disiplin institusi. Dan, mungkin yang paling penting: disiplin terhadap rencana.
Indonesia mulai membangun pertanian. Membangun pendidikan. Membangun infrastruktur. Membangun industri. Membangun institusi ekonomi.
Tentu dengan segala kontroversi dan kontradiksinya.
Tetapi secara historis, sulit membantah bahwa Indonesia kemudian mengalami transformasi yang sangat besar dibandingkan titik awalnya.
Dan pada suatu titik, bangsa yang pernah menghadapi persoalan kelangkaan pangan dan inflasi ekstrem itu mampu melakukan sesuatu yang, secara simbolik, sangat penting:
Indonesia menerbangkan pesawat buatannya sendiri.
N-250.
Bagi sebagian orang, N-250 mungkin hanya sebuah pesawat.
Bagi saya, ia adalah sebuah pertanyaan.
Bagaimana bangsa yang pernah sibuk mengatasi inflasi dan kelaparan bisa sampai pada tahap membangun pesawat?
Jawabannya tentu tidak sederhana.
Ada kebijakan ekonomi. Ada pembangunan pertanian. Ada modal. Ada pendapatan minyak. Ada teknokrat. Ada industrialisasi. Ada institusi. Ada pendidikan. Ada B.J. Habibie dan generasi insinyur yang percaya bahwa Indonesia tidak selamanya harus menjadi pengguna teknologi.
Tetapi ada satu faktor yang menurut saya sangat penting:
Bangsa ini pernah memiliki keberanian untuk membangun kemampuan.
Bukan sekadar membagikan apa yang sudah ada. Tetapi menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada.
Dari kantin FEUI, saya memandang Jembatan Teksas
Dan pagi itu, sambil melihat jembatan antara Teknik dan Sastra, saya tiba-tiba merasa sedang melihat persoalan Indonesia dalam bentuk yang sangat sederhana.
DI SATU SISI
- Teknik
- Teknologi
- Kemampuan
- Produksi
- Science
- Engineering
- Industri
- Pesawat
DI SISI LAIN
- Sastra
- Filsafat
- Rasa
- Kebudayaan
- Imajinasi
- Pertanyaan tentang manusia
- Tentang makna
- Tentang tujuan
Bukankah sebuah bangsa membutuhkan keduanya?
Masalah kita hari ini mungkin bukan karena kita kekurangan teknologi.
Kita bisa membeli teknologi.
Masalahnya adalah: apakah kita mampu menciptakannya?
Dan mungkin masalah kita juga bukan karena kita kekurangan gagasan tentang keadilan.
Masalahnya adalah: apakah kita memiliki kemampuan institusional untuk mewujudkannya?
Di situlah saya kemudian sampai pada kegelisahan yang lebih besar.
Indonesia hari ini sedang memilih apa?
Karena, suka atau tidak suka, setiap bangsa hidup dalam dunia yang oleh ekonomi disebut: scarcity. Kelangkaan.
Tidak ada negara yang memiliki uang tanpa batas. Tidak ada pemerintah yang dapat membiayai semua program. Tidak ada anggaran yang cukup untuk memenuhi semua keinginan.
Karena itu, setiap bangsa harus memilih. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. Dalam ekonomi, kita menyebutnya: opportunity cost.
Kalau kita memilih A, kita kehilangan kesempatan melakukan B. Kalau uang digunakan untuk satu program, uang yang sama tidak dapat digunakan untuk program lain.
Sesederhana itu.
Maka anggaran negara sebenarnya bukan hanya tabel angka.
Anggaran negara adalah dokumen tentang prioritas sebuah bangsa.
Setiap rupiah yang dikeluarkan negara menjawab sebuah pertanyaan: Apa yang kita anggap penting? Dan yang lebih penting: Masa depan mana yang kita pilih untuk tidak kita bangun?
Jangan salah: rakyat lapar memang harus diberi makan
Sebelum tulisan ini dibaca sebagai serangan terhadap program sosial, mari kita luruskan satu hal.
Rakyat lapar memang harus diberi makan. Anak-anak membutuhkan gizi. Masyarakat miskin membutuhkan perlindungan. Negara tidak boleh berdiam diri ketika rakyatnya mengalami kesulitan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa negara harus memilih antara memberi makan anak-anak atau membangun pesawat.
Itu adalah false dichotomy.
Bangsa yang baik tentu harus mampu melakukan keduanya.
Tetapi ekonomi mengajarkan kita sesuatu yang tidak bisa dihindari: dalam kondisi sumber daya terbatas, proporsi tetap penting. Prioritas tetap penting. Urutan tetap penting. Dan horizon waktu tetap penting.
Masalahnya bukan: “Apakah rakyat harus dibantu?” Tentu harus.
Pertanyaan yang lebih sulit adalah: “Setelah rakyat dibantu, apakah negara sedang membangun kemampuan agar mereka suatu hari tidak lagi bergantung pada bantuan?”
Inilah perbedaan antara memberikan ikan dan membangun kemampuan untuk menghasilkan ikan.
Tetapi bahkan analogi “beri ikan atau beri kail” mungkin sudah terlalu sederhana untuk membicarakan sebuah bangsa.
Bangsa yang serius tidak berhenti pada kail.
Bangsa yang serius bertanya: Siapa yang membuat kail? Di mana bajanya diproduksi? Siapa yang menemukan teknologi materialnya? Universitas mana yang melakukan risetnya? Industri mana yang memproduksinya? Bank mana yang membiayainya? Pelabuhan mana yang menghubungkannya dengan pasar? Dan generasi ilmuwan mana yang sedang menemukan cara baru untuk melakukan semuanya dengan lebih baik?
Itulah perbedaan antara konsumsi dan kapabilitas.
Memberi kesejahteraan atau membangun kemampuan?
Di sinilah saya merasa kita perlu lebih berani berdiskusi.
Bukan tentang apakah MBG baik atau buruk. Bukan pula tentang apakah koperasi desa baik atau buruk.
Program-program itu dapat memiliki tujuan sosial yang legitimate.
Yang ingin saya pertanyakan adalah sesuatu yang lebih mendasar: Bagaimana sebuah bangsa menentukan investasi terbaiknya?
Jika kita memiliki dana yang besar, tentu kita dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hari ini.
Tetapi dana itu juga memiliki alternatif penggunaan. Ia dapat menjadi laboratorium, beasiswa, riset, universitas, industri strategis, teknologi energi, bioteknologi, aerospace, semikonduktor, robotika, kecerdasan buatan, material science — atau investasi jangka panjang lainnya yang mungkin hasilnya baru akan kita lihat dua atau tiga dekade mendatang.
Dan di sinilah politik menjadi rumit.
Karena manfaat program sosial dapat dilihat hari ini. Sementara manfaat investasi science mungkin baru dinikmati oleh anak-anak yang hari ini bahkan belum lahir.
SCIENCE BERKATA
- “Kita belum tahu. Karena itu kita harus menelitinya.”
- “Kita membutuhkan penelitian lebih lanjut.”
- Hidup dengan ketidakpastian.
- Membutuhkan waktu.
POLITIK BERKATA
- “Apa hasilnya?”
- “Saya punya solusi.”
- Menyukai sesuatu yang bisa ditunjukkan.
- Membutuhkan hasil.
Dan masyarakat? Masyarakat tentu lebih mudah menyukai seseorang yang berkata “Saya punya solusi” dibandingkan ilmuwan yang berkata “Data kita belum cukup.”
Padahal justru kalimat kedua mungkin lebih jujur.
Masalah demokrasi bukan demokrasi
Mari kita hati-hati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa demokrasi adalah masalah.
Masalahnya bukan demokrasi. Masalahnya adalah ketika demokrasi direduksi menjadi: pemilu. Memilih. Menang. Memerintah. Lima tahun. Memilih lagi. Selesai.
Saya menyebutnya: demokrasi formalistik.
Demokrasi formalistik sangat baik dalam menjawab satu pertanyaan: Siapa yang berhak memerintah?
Tetapi belum tentu cukup baik dalam menjawab: Ke mana bangsa ini harus pergi?
Karena demokrasi memiliki persoalan bawaan yang jarang kita bicarakan secara serius: horizon waktunya pendek.
Politisi berpikir dalam masa jabatan. Media berpikir dalam siklus berita. Pasar berpikir dalam laporan kuartalan. Media sosial berpikir dalam hitungan menit.
Sementara pembangunan sebuah bangsa membutuhkan waktu puluhan tahun.
Maka terjadilah ketidakcocokan yang mendasar. Saya menyebutnya: konflik antara waktu politik dan waktu peradaban.
Politik mungkin bekerja dalam lima tahun. Tetapi membangun universitas kelas dunia, industri pesawat, ekosistem riset, tradisi science, generasi scientist, atau kemampuan teknologi nasional — membutuhkan dua puluh, tiga puluh, bahkan lima puluh tahun.
Bagaimana mungkin kita membuat keputusan pembangunan jangka panjang dengan sistem insentif politik yang sangat pendek?
Inilah persoalan yang menurut saya layak menjadi diskusi mahasiswa.
Lima tahun versus lima puluh tahun
Membangun industri pesawat tidak bisa dilakukan dengan logika proyek lima tahunan.
Membangun science juga tidak bisa dilakukan dengan logika: “Kalau tahun depan belum menghasilkan, anggarannya kita potong.”
Science bukan program pembagian sembako.
Hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Riset bisa gagal. Eksperimen bisa tidak menghasilkan apa-apa. Proyek teknologi bisa bangkrut. Prototype bisa gagal terbang.
Tetapi justru dari kegagalan itulah kemampuan dibangun.
Masalahnya, kita sering menganggap kegagalan sebagai pemborosan.
Padahal dalam science: kegagalan adalah bagian dari proses produksi pengetahuan.
Thomas Edison gagal berkali-kali. Program luar angkasa mengalami kecelakaan. Banyak obat tidak pernah berhasil masuk pasar. Banyak teknologi mati di laboratorium.
Tetapi bangsa yang serius terhadap science memahami satu hal: kegagalan penelitian tidak sama dengan kegagalan bangsa.
Justru bangsa gagal ketika ia berhenti mencoba.
Dan di sini kita mungkin harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar siap membangun negara berbasis science?
Karena negara berbasis science bukan negara yang hanya senang memotret anak-anak Indonesia yang memenangkan olimpiade.
Negara berbasis science adalah negara yang membiayai kegagalan. Membiayai eksperimen. Membiayai orang-orang pintar untuk berpikir. Membiayai sesuatu yang belum menghasilkan.
Dan bersabar.
Kita pernah berani bermimpi tentang pesawat
Sekali lagi, saya tidak ingin N-250 berubah menjadi nostalgia.
N-250 bukan kitab suci pembangunan. IPTN bukan model yang tidak boleh dikritik.
Bahkan mungkin banyak kesalahan dalam cara kita mengelola industrialisasi strategis pada masa itu.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang: ambisi.
Indonesia pernah memiliki ambisi teknologi. Kita pernah mengatakan: “Kita tidak selamanya hanya akan membeli.”
Kita ingin membuat. Kita ingin menguasai. Kita ingin menciptakan.
Dan mungkin inilah yang hari ini mulai jarang kita bicarakan. Bukan pesawatnya. Tetapi: keberanian untuk membangun kemampuan nasional.
Sebab sebuah pesawat bukan hanya produk.
Di belakang satu pesawat terdapat matematika, fisika, metalurgi, aerodinamika, software, engineering, universitas, laboratorium, industri, manajemen, keuangan, supply chain — dan ribuan manusia yang memiliki pengetahuan.
Pesawat adalah puncak gunung. Yang tidak kita lihat adalah gunung ilmu pengetahuan di bawahnya.
Karena itu, ketika sebuah bangsa mampu membuat pesawat, sebenarnya ia sedang mengatakan: “Kami telah membangun ekosistem kemampuan.”
Ketika bangsa lebih suka hasil daripada kemampuan menghasilkan
Saya khawatir kita mulai menjadi bangsa yang terlalu sibuk membicarakan hasil.
Kita ingin pekerjaan. Tetapi tidak selalu bertanya: Industri apa yang menciptakan pekerjaan itu?
Kita ingin barang murah. Tetapi tidak selalu bertanya: Siapa yang memproduksinya?
Kita ingin teknologi. Tetapi tidak selalu bertanya: Siapa yang menguasai ilmunya?
Kita ingin pesawat. Tetapi tidak selalu siap membiayai universitas dan laboratorium yang menciptakan insinyurnya.
Kita ingin Indonesia maju. Tetapi kadang-kadang kita lupa bahwa negara maju tidak dibangun dari keinginan untuk maju.
Negara maju dibangun dari institusi, pendidikan, science, teknologi, industri. Dan yang paling sulit: kesabaran.
Ketika scientist kalah dari mitos di pasar perhatian
Di sinilah kegelisahan saya menjadi lebih serius.
Kita hidup di zaman ketika seseorang dapat menghabiskan dua puluh tahun hidupnya untuk menjadi ahli.
Kemudian ia kalah dari seseorang yang berbicara selama dua menit di media sosial.
SCIENTIST MEMBAWA
- Data
- Metode
- Publikasi
- Verifikasi
- Ketidakpastian
ORANG LAIN MEMBAWA
- Keyakinan
- Emosi
- Narasi
- Kepastian
Dan sering kali masyarakat lebih menyukai yang kedua.
Mengapa? Karena manusia tidak selalu memilih berdasarkan kebenaran. Manusia memilih berdasarkan banyak hal: emosi, identitas, ketakutan, harapan, kenyamanan. Dan sesuatu yang mudah dipahami.
Di sinilah saya melihat masalah besar masyarakat modern: pasar perhatian tidak memiliki mekanisme untuk membedakan kedalaman pengetahuan.
Algoritma tidak bertanya: “Apakah ini benar?” Algoritma bertanya: “Apakah orang akan menontonnya?”
Dan akhirnya: scientist dan mistikus berada di layar yang sama. Data dan mitos berada dalam kolom komentar yang sama. Penelitian dan teori konspirasi bersaing untuk mendapatkan perhatian yang sama. Professor dan influencer hidup dalam ekosistem informasi yang sama.
Lalu perlahan muncul sebuah kesalahpahaman yang sangat berbahaya: Karena semua orang memiliki hak berbicara, maka semua pendapat memiliki bobot pengetahuan yang sama.
Tidak. Maaf. Tidak semua pendapat sama.
Demokrasi memberikan kita kesetaraan politik. Tetapi demokrasi tidak pernah menjanjikan kesetaraan kompetensi.
Kita semua memiliki hak untuk memilih presiden. Tetapi kita tidak semua memiliki kemampuan untuk merancang jembatan.
Kalau pesawat rusak, kita tidak melakukan referendum untuk memperbaikinya. Kita memanggil engineer.
Kalau jantung kita bermasalah, kita tidak membuat polling di media sosial. Kita mencari dokter.
Menghormati kompetensi bukan berarti anti-demokrasi. Justru masyarakat modern tidak mungkin bertahan tanpa penghormatan terhadap: expertise.
Ketika semua orang boleh berbicara, siapa yang masih mau mendengarkan?
Ini mungkin paradoks terbesar demokrasi digital.
Semakin terbuka ruang berbicara, semakin sulit menentukan siapa yang benar-benar memahami persoalan.
Semua orang bisa berbicara. Semua orang bisa membuat konten. Semua orang bisa berkomentar. Semua orang bisa merasa menjadi ahli.
Dan ketika semua orang merasa tahu: siapa yang masih mau belajar?
Science kemudian menghadapi persoalan yang tidak pernah diajarkan di laboratorium. Ia kalah bukan karena terbukti salah. Tetapi karena membosankan.
Data terlalu panjang. Metode terlalu rumit. Penelitian terlalu lambat. Kebenaran terlalu hati-hati.
Sementara mitos? Mitos memiliki jawaban yang sederhana.
Science berkata: “Ini kompleks.” Mitos berkata: “Semua ini terjadi karena satu alasan.”
Science berkata: “Kita membutuhkan penelitian lebih lanjut.” Mitos berkata: “Saya sudah tahu jawabannya.”
Dan manusia sering kali lebih nyaman dengan jawaban yang sederhana.
Itulah sebabnya saya khawatir. Bukan karena masyarakat semakin bodoh. Tetapi karena kita sedang hidup dalam sebuah sistem yang menghargai perhatian lebih tinggi daripada kedalaman.
Science membutuhkan tempat yang istimewa
Saya tidak mengatakan scientist harus menjadi kasta baru.
Tidak. Scientist juga bisa salah. Penelitian bisa keliru. Teori bisa runtuh.
Justru kekuatan science adalah: ia menyediakan mekanisme untuk mengoreksi dirinya sendiri.
Science tidak meminta kita percaya. Science meminta kita: menguji, memverifikasi, mengulang, mengkritik. Dan memperbaiki.
Tetapi masyarakat yang ingin membangun teknologi tinggi harus memahami sesuatu: Tidak semua pengetahuan dapat diputuskan melalui popularitas.
Kalau kita ingin menentukan siapa penyanyi favorit, silakan voting. Kalau kita ingin menentukan warna taman kota, silakan voting.
Tetapi kalau kita ingin menentukan apakah sebuah jembatan aman? Kita membutuhkan insinyur.
Kalau kita ingin menentukan efektivitas sebuah obat? Kita membutuhkan science.
Kalau kita ingin membuat pesawat? Kita membutuhkan matematika.
Bukan polling.
Mungkin masalah terbesar kita bukan kekurangan uang
Saya semakin percaya bahwa persoalan terbesar Indonesia mungkin bukan sekadar kekurangan uang.
Kita memiliki sumber daya. Kita memiliki penduduk. Kita memiliki pasar. Kita memiliki sumber daya alam. Kita memiliki anak-anak yang pintar.
Tetapi mungkin kita belum sepenuhnya sepakat: Apa yang harus kita bangun dengan semua itu?
Kita senang melihat anak Indonesia memenangkan olimpiade. Kita bangga ketika ilmuwan Indonesia bekerja di perusahaan teknologi besar dunia. Kita senang ketika mahasiswa Indonesia diterima di universitas terbaik.
Tetapi pertanyaannya: Apakah kita membangun ekosistem agar mereka dapat kembali dan berkarya?
Apakah kita memiliki laboratorium? Pendanaan riset? Universitas yang kuat? Industri teknologi? Institusi yang profesional?
Atau kita hanya bangga ketika mereka berhasil di tempat lain?
Investasi terbaik sebuah bangsa mungkin bukan beton
Saya tahu ini kalimat yang provokatif.
Tetapi saya ingin mengatakan: Investasi terbaik sebuah bangsa mungkin bukan gedung. Bukan jalan. Bukan jembatan. Bukan program. Bukan bahkan pesawat.
Investasi terbaik sebuah bangsa adalah manusia yang mampu berpikir lebih jauh daripada zamannya.
Pesawat hanya mungkin muncul ketika sebelumnya ada guru, mahasiswa, profesor, laboratorium, insinyur, kegagalan, eksperimen. Dan institusi yang bertahan cukup lama untuk memungkinkan semua itu berkembang.
Satu scientist mungkin membutuhkan investasi puluhan tahun. Seorang engineer membutuhkan pendidikan panjang. Seorang doktor membutuhkan penelitian bertahun-tahun. Sebuah universitas membutuhkan generasi untuk membangun tradisi. Laboratorium membutuhkan biaya.
Dan hasilnya tidak pernah dijamin.
Tetapi sejarah pembangunan menunjukkan satu pola yang sangat jelas: Tidak ada negara modern yang mencapai kemampuan teknologi tinggi tanpa investasi jangka panjang dalam manusia dan science.
Tidak ada jalan pintas.
Kita bisa membeli pesawat. Tetapi membeli pesawat tidak membuat kita mampu membuat pesawat.
Kita bisa membeli teknologi. Tetapi membeli teknologi tidak membuat kita menguasai teknologi.
Kita bisa mendatangkan investor. Tetapi investor tidak otomatis menciptakan kemampuan nasional.
Kemampuan harus: dibangun.
Indonesia tidak kekurangan anak pintar
Saya tidak percaya Indonesia kekurangan orang pintar.
Saya melihat terlalu banyak anak muda Indonesia yang cerdas.
Yang mungkin kita kekurangan adalah: keberanian kolektif untuk berinvestasi pada kecerdasan mereka.
Kita lebih mudah menghitung berapa bantuan yang diberikan hari ini. Tetapi sulit menghitung berapa nilai seorang ilmuwan yang mungkin menemukan teknologi dua puluh tahun lagi.
Kita mudah melihat manfaat sebuah program. Tetapi sulit mengukur manfaat sebuah eksperimen yang hari ini gagal.
Dan karena sulit dihitung, ia sering dianggap tidak penting.
Padahal mungkin justru di situlah masa depan sedang disembunyikan.
Demokrasi membutuhkan sesuatu yang melampaui demokrasi
Ini mungkin terdengar paradoks.
Tetapi saya percaya demokrasi yang sehat membutuhkan konsensus tentang sesuatu yang tidak boleh terus berubah setiap kali pemilu berubah.
Saya menyebutnya: proyek nasional lintas-generasi.
Kita boleh berbeda partai. Kita boleh berganti presiden. Kita boleh berdebat tentang pajak. Kita boleh berbeda ideologi.
Tetapi seharusnya ada beberapa hal yang tetap kita sepakati. Misalnya: Pendidikan harus maju. Science harus berkembang. Universitas harus kuat. Institusi harus profesional. Industri teknologi harus dibangun. Anak-anak pintar harus mendapatkan kesempatan. Dan Indonesia harus memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Presiden boleh berganti. Tetapi proyek kecerdasan bangsa tidak boleh berganti setiap lima tahun.
Dari Jembatan Teksas kembali kepada Indonesia
Saya kembali melihat Jembatan Teksas. Teknik dan Sastra. Teknologi dan filsafat. Kemampuan dan rasa.
Mungkin itu sebenarnya gambaran Indonesia yang kita butuhkan.
Kita membutuhkan Teknik. Karena tanpa teknologi, kita hanya akan menjadi pasar.
Kita membutuhkan Sastra. Karena tanpa filsafat dan rasa, kita tidak tahu untuk apa kemajuan itu.
Kita membutuhkan scientist. Karena bangsa modern harus dibangun dengan evidence.
Tetapi kita juga membutuhkan manusia yang mampu bertanya: “Untuk siapa semua kemajuan ini?”
Kita membutuhkan pesawat. Tetapi kita juga membutuhkan alasan moral mengapa kita ingin menerbangkannya.
Kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi. Tetapi kita juga harus bertanya: pertumbuhan untuk siapa?
Kita membutuhkan industri. Tetapi kita juga harus bertanya: masyarakat seperti apa yang ingin kita bentuk?
Dan mungkin itulah fungsi jembatan.
Bukan untuk membuat satu sisi mengalahkan sisi yang lain. Tetapi untuk: menghubungkan.
Pertanyaan untuk mahasiswa yang duduk di angkringan
Tulisan ini bukan jawaban. Ini hanya kegelisahan.
Dan mungkin memang seharusnya dimulai sebagai diskusi angkringan. Bukan dari ruang rapat. Bukan dari podium politik. Bukan dari konferensi pers.
Saya ingin membayangkan mahasiswa dari Teknik, FEUI, Sastra, FISIP, MIPA, dan fakultas lain duduk bersama di sebuah angkringan.
Minum kopi. Makan nasi kucing. Lalu bertanya: “Kalau kita nanti memimpin Indonesia, apa sebenarnya yang ingin kita bangun?”
Kalau uang terbatas, apa prioritas kita? Kalau harus memilih, apa yang kita pilih?
Apakah kita hanya berpikir tentang hari ini? Atau berani mengorbankan sebagian kenyamanan hari ini untuk kemampuan generasi yang akan datang?
Tidak ada jawaban yang mudah. Dan saya tidak percaya ada satu orang yang memiliki semua jawabannya.
Bangsa yang berhenti mengajukan pertanyaan besar akan berhenti menjadi bangsa yang besar.
Jadi, apakah kita harus memilih ikan atau kail?
Mungkin pertanyaan itu sejak awal salah.
Rakyat memang membutuhkan ikan. Negara memang harus hadir. Kesejahteraan sosial memang penting.
Tetapi bangsa tidak boleh berhenti di sana.
Bangsa harus membangun kail. Lalu membangun industri kail. Lalu membangun universitas yang menemukan material baru untuk membuat kail. Lalu membangun teknologi perikanan. Lalu membangun kapal. Lalu membangun pelabuhan.
Dan kemudian membangun generasi yang mungkin menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita bayangkan hari ini.
Itulah investasi terbaik sebuah bangsa: membangun kemampuan untuk terus menciptakan kemampuan baru.
Ketika saya meninggalkan kantin FEUI dan memandang kembali ke arah Jembatan Teksas, saya membawa pulang satu pertanyaan.
Mungkin pertanyaan ini terlalu besar untuk sebuah obrolan di kantin. Tetapi semua generasi memang harus memiliki pertanyaan besar.
Pertanyaannya sederhana: Indonesia sedang membangun apa?
Bukan hanya: Indonesia sedang membagikan apa? Bukan hanya: Indonesia sedang menghabiskan apa? Bukan hanya: Indonesia sedang memperdebatkan siapa?
Tetapi: Apa yang sedang kita bangun yang akan tetap berdiri ketika kita semua sudah tidak ada?
Karena bangsa bukan hanya kumpulan manusia yang hidup hari ini. Bangsa adalah kontrak antara mereka yang telah pergi, mereka yang hidup sekarang, dan mereka yang belum lahir.
Kita menerima Indonesia dari generasi sebelumnya. Dengan segala keberhasilannya. Dengan segala kegagalannya. Dengan segala luka dan kesalahannya.
Tetapi kita tidak berhak hanya menjadi konsumen dari sejarah. Kita memiliki kewajiban untuk menambahkan sesuatu. Membangun sesuatu. Memperbaiki sesuatu. Dan mewariskan sesuatu yang lebih baik.
Mungkin itu sebabnya saya masih percaya pada mahasiswa. Masih percaya pada kampus. Masih percaya pada angkringan. Dan masih percaya pada percakapan-percakapan kecil yang tidak tercatat dalam sejarah.
Karena mungkin suatu malam, seorang mahasiswa Teknik berkata: “Indonesia harus membuat teknologi sendiri.”
Kemudian mahasiswa Sastra menjawab: “Tetapi kita juga harus tahu untuk apa teknologi itu.”
Lalu mahasiswa Ekonomi bertanya: “Bagaimana kita membiayainya?”
Dan mahasiswa dari fakultas lain menambahkan: “Bagaimana memastikan semua itu adil bagi rakyat?”
Di situlah mungkin sebuah bangsa mulai berpikir.
Dan mungkin itulah yang kita butuhkan sekarang. Bukan lebih sedikit perdebatan. Tetapi: perdebatan yang lebih besar.
Bukan sekadar tentang siapa yang menang dalam politik hari ini. Tetapi tentang: Indonesia seperti apa yang ingin kita menangkan untuk lima puluh tahun ke depan?
Karena memberi ikan memang penting. Memberi makan rakyat adalah kewajiban negara.
Tetapi sebuah bangsa yang ingin besar tidak boleh berhenti menjadi pemberi ikan. Ia harus membangun kail. Ia harus membangun pabrik kail. Ia harus membangun ilmu untuk menciptakan kail yang lebih baik.
Dan pada akhirnya, ia harus membangun generasi yang bahkan tidak lagi bertanya tentang kail. Karena mereka telah menemukan cara-cara baru untuk menciptakan masa depan.
Mungkin itulah investasi terbaik sebuah bangsa. Bukan sekadar apa yang bisa kita berikan kepada rakyat hari ini. Tetapi: kemampuan apa yang kita tanamkan kepada rakyat agar mereka mampu menciptakan Indonesia yang bahkan lebih besar daripada yang mampu kita bayangkan hari ini.
Dan jika suatu hari nanti pesawat buatan anak-anak Indonesia kembali terbang melintasi langit Nusantara, semoga kita tidak hanya bangga pada pesawatnya.
Semoga kita ingat: bahwa jauh sebelum pesawat itu terbang, ada seorang guru yang mengajarkan matematika. Ada seorang mahasiswa yang bertahan di laboratorium. Ada seorang peneliti yang gagal berkali-kali. Ada sebuah universitas yang memilih mempertahankan riset. Ada sebuah negara yang bersedia bersabar.
Dan, yang paling penting: ada sebuah bangsa yang pernah memutuskan bahwa masa depan lebih layak untuk diinvestasikan daripada sekadar dibicarakan.
Komentar
Posting Komentar